Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Lebaran Keluarga Besar Super Ramai

Gambar
  *Lebaran Keluarga Besar Super Ramai Aula itu tampak meriah dan ramai sekali. Acara besar, eh, tidak, bukan acara. Lebaran. Mereka lebaran bersama. Berkumpul riuh sekali. Suara tawa anak-anak bercengkerama riang. Ada yang sibuk membahas makanan yang dihidangkan. Ada yang tertawa-tawa tidak jelas, ketawa-ketiwi saja, banyak sekali recehnya. Ada pula yang sibuk membahas sesuatu apalah, banyak sekali topiknya. Ada pula yang sibuk nostalgia bertemu teman lama. Teman TK. SD. SMP. SMA. Kuliah. Membahas pekerjaan. Rencana kerjasama bisnis. Bleuh, apapun itu, mereka bahagia sekali. Berkumpul di aula besar itu. Di aula besar kediaman seseorang. "Hai Ayya!" Tamu ke sekian menyapa. Gadis berkerudung itu menoleh, tersenyum lebar. Itu Khadijah. Dia datang bersama kembarannya, Khalid. Ayya menyeringai, mendekat. Mereka tamu spesial. Datang berdua ke sini langsung dari Perancis. Penerbangan pakai jet pribadi--aslinya roket, tapi kemudian disulap jadi jet (nggak usah mikir ...

Rolling Kamar Mandi

 “Woi, kalian udah lihat pengumuman baru, belum?” ucap Ara yang baru datang. Kepalanya tertutup handuk, dia menenteng tote bag yang selama ini ia pakai buat mandi. Sepertinya dia baru saja selesai mandi. Kami—semua yang ada di kamar—menggeleng serempak. “Pengumuman baru apa, Ara?” tanyaku penasaran. “Kamar mandi kita di- rolling . Lihat aja pembagiannya di mading asrama.” Ucapnya singkat, jelas, padat. Aku hanya ber-“oh”, beranjak turun. Yah, nasib kasurku di ranjang atas. Mau ke mana-mana harus turun tangga dulu, nggak boleh asal loncat kecuali mau dikafani dan dishalatkan sejak dini. Dan aku nggak mau melakukannya karena dosaku masih banyak lagi. Fuh! Aku bergegas keluar dari kamar, melesat menuju mading di depan kamar musyrifah (pengawas) kami. Di sana sudah banyak anak-anak berkumpul. Aku menyelip di kerumunan, langsung mencari namaku di mading. Oke, namaku ada di kamar mandi 8. Aku kembali menyelip keluar dari kerumunan, kembali ke kamar. Kebe...

Sebatas Angan dan Sebatas Ingin

 Sore itu bukanlah sore yang baik bagi Salim. Padahal sore itu menurutnya semua akan usai. Penderitaannya akan berakhir, kehidupan sulit mereka akan berubah menjadi kehidupan yang mudah. Dia tidak perlu lagi susah payah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Ia sudah menemukan cara baru untuk terus hidup dan membahagiakan adiknya tanpa harus terseok-seok mengais rezeki. Namun sore itu juga, semuanya lenyap bagai direnggut habis. Persis seperti sehelai daun segar yang lantas terbang terbawa angin, kemudian layu mengering dan terbakar dilalap api. Ia tidak tahu apa kesalahannya? Siang itu, sejak pulang sekolah ia tidak ke mana-mana. Hendak bergegas pulang, ingin segera mengurus rumah dan menjemput adiknya, Sopia yang bersekolah di SD Negeri tidak jauh dari rumah. Lalu ingin bergegas berangkat kerja. Dia cuma seorang anak muda yatim-piatu yang bekerja serabutan menjadi buruh apa saja. Selalu menawarkan bantuan pada beberapa pemilik toko. Menjadi ...

Mission

 ( cerita ini hanya cuplikan dari serialku yang tak rampung juga hingga kini-) “Terima kasih atas laporan kamu, Agen Ayya. Akan kulaporkan pada Ratu Dewi.” Ayya hanya mendengus sebal, tangannya kanannya lincah menggerakkan kursor laptop. Sementara tangan kirinya tetap setia menekan earphone di telinga. “Hmm. Ye lah. Agen lah konon. Titip salam pada Ratu. Woi, sesekali janganlah formal sangat. Tak selesa aku dengar (Hmm. Baiklah. Katanya agen. Titip salam pada Ratu. Woi, sesekali jangan formal banget. Aku nggak nyaman dengarnya).” Terdengar balasan suara dari seberang sana. “Cis. Okelah. Titip salam juga sama teman-teman, ya! Btw, minggu depan kamu dan teman-teman bakal libur, kan? Ada agenda?” “Hmm. Minggu depan kami nggak bisa libur. Seluruh anak-anak Tim Avenger dan Tim Fighter ada agenda bersama. Kami punya proyek bertema ‘Rumah Tangga’. Kami mau praktik seolah-olah menjalani rumah tangga, gitu.” Tiba-tiba terdengar ledakan tertawa. “Furrrhhpp!! Apa?! Rumah tangga? Ya Allah, wa...

Semua Telah Kembali

 ( cuplikan dari calon serialku yang tak rampung hingga kini- ) “Kuro …” Terdengar panggilan. Kuro yang baru saja hendak menyentuh gagang pintu gerbang kembali menoleh ke belakang. Siapa lagi yang memanggilnya? Ia menoleh ke belakang. Mata hazelnya yang sembab meluruskan pandangan. Siapa itu? Sosok itu mendekat. Pakaian berwarna biru pastel itu berkibar elok. Sosok itu makin terlihat jelas, ia muncul dari balik kabut yang menutupi pandangan. Ia sama seperti dengan orang yang menemui Kuro sebelumnya. Menaiki awan. Tapi jelas, orang yang ini sangat berbeda . Kuro memicingkan mata. “Ku-ro …” ia tersenyum lebar . Kuro menatap sosok itu dengan segenap rasa. Mungkinkah ini? Apakah hanya mimpi? Mimpi-mimpi yang selama ini mengejarnya . Menggambarkan banyak hal yang begitu ia impikan namun berujung gagal. Apakah ini mimpi-mimpi   itu lagi? Jawabannya, TIDAK . Tangan Kuro sudah bergetar. Matanya untuk ke sekian kalinya, kembali basah oleh air mata. Tapi selama ini, air mata itu hampa....

Pisau Bermata Dua

 Pagi menyapa kota yang tengah berbenah menyambut hari. Sinar matahari bersinar lembut amat mengagumkan. Menghiasi ujung horizon cakrawala. Burung-burung beterbangan berkelompok, suara nyaring mereka mengisi senyapnya udara pagi. Berbeda dengan yang lain, Zahra masih mendekam di kamarnya. Tidak beranjak keluar sejak selesai mengaji. Mukena pink -nya belum dilipat, malah masih teronggok kusut di tepi ranjang. Sajadah masih di lantai. Tempat tidur belum dirapikan. Jendela kamar tidak dibuka. Zahra tidak menghiraukan keadaan sekitarnya, malah asyik terus dengan kegiatannya di balik layar tablet. Main game . Yap! Zahra sangat senang di hari Ahad ini karena ia diizinkan Ummi bermain game hanya setiap hari Ahad. Maka Zahra senang sekali. Pagi-pagi sejak jam lima subuh, ia sudah bangun. Siap-siap shalat Shubuh. Lantas shalat berjamaah dengan Ummi dan Kak Zie. Kemudian setoran hafalan dengan Kak Zie, lalu mengaji sebanyak setengah juz—rutinitas biasanya di hari Ahad. Setelah ...