Lebaran Keluarga Besar Super Ramai

*Lebaran Keluarga Besar Super Ramai
Aula itu tampak meriah dan ramai sekali. Acara besar, eh, tidak, bukan acara. Lebaran. Mereka lebaran bersama. Berkumpul riuh sekali. Suara tawa anak-anak bercengkerama riang. Ada yang sibuk membahas makanan yang dihidangkan. Ada yang tertawa-tawa tidak jelas, ketawa-ketiwi saja, banyak sekali recehnya. Ada pula yang sibuk membahas sesuatu apalah, banyak sekali topiknya. Ada pula yang sibuk nostalgia bertemu teman lama. Teman TK. SD. SMP. SMA. Kuliah. Membahas pekerjaan. Rencana kerjasama bisnis. Bleuh, apapun itu, mereka bahagia sekali. Berkumpul di aula besar itu.
Di aula besar kediaman seseorang.
"Hai Ayya!" Tamu ke sekian menyapa. Gadis berkerudung itu menoleh, tersenyum lebar. Itu Khadijah. Dia datang bersama kembarannya, Khalid. Ayya menyeringai, mendekat. Mereka tamu spesial. Datang berdua ke sini langsung dari Perancis. Penerbangan pakai jet pribadi--aslinya roket, tapi kemudian disulap jadi jet (nggak usah mikir gimana kok bisa, karena teknologi mereka memang keren). Karena, yah, Khalid-Khadijah orang kaya. Kecil-kecil gini udah jadi penulis besar. Dan, psstt, sebentar lagi mereka berdua punya perusahaan masing-masing.
"Hanya berdua saja?" Ayya berjabat tangan dengan Khadijah plus basa-basi. Sebut aja bodoh, padahal di meja bundar tempat Khalid dan Khadijah duduk ada beberapa orang lagi. Tiga lelaki dan satu perempuan. Teman-teman Khalid dan Khadijah.
"Enggak, aku bareng Amaroh." Khadijah menunjuk teman keturunan Inggrisnya. Ayya nyengir. Gadis kecil yang dulu selalu bawa boneka Galileo kesayangannya itu udah baligh sekarang. Meski kebiasaan bawa bonekanya nggak berkurang. Malahan sekarang ada dua, Galileo dan Unicorn.
"Gimana makanannya, Amaroh?" Ayya nyengir. Amaroh menatapnya berbinar.
"Enak banget! Aku suka gado-gadonya! Aku mau lagi! Besok kalau balik lagi ke Inggris aku mau pesan yaa, mau kujadikan oleh-oleh buat Papa sama Mama!" Ayya cuma geleng-geleng, biasalah, Amaroh memang begitu.
Pindah ke meja berikutnya.
"Yuki, gimana kabarmu?" Kali ini Ayya yang menyapa.
Gadis bermata gold yang manis. Juga teman-temannya, Konan, Kirei, dan... Ayya terdiam. Ada yang kurang. Tapi tidak perlu ditanya, dia sudah tahu yang satu itu ke mana.
"Ba-ik. A-ku, Ma-ma, dan te-man-te-man se-hat."
"Masyaallah. Kemampuan bicaramu sudah lumayan, ya." Ayya menatapnya takjub. Yuki hanya nyengir.
"Alham-dulil-lah."
Ayya menatapnya senang. Mengusap kepalanya lembut. Bagaimana pun juga... Nanti gadis bisu ini akan menunjukkan bahwa dia bisa merobohkan tembok penghalangnya. Bahwa dia bisa bicara meski pada asalnya dia bisu. Pada seseorang yang berharga baginya.
Pindah meja lagi.
"Wah? Sepertinya seru sekali di sini?" Ayya tertawa melihat Dais yang wajahnya cemong oleh krim cake. Nila, Ali, Asaka, Kayla dan Gemala menertawakannya di sana.
"Nila mengangguku, Kak!" Dais mengadu. Kayla terbahak.
"Apaan sih, jadi cowok cemen banget! Masa' mengadu!" Lagi-lagi meja itu tertawa lagi. Ayya nyengir, waduh, aula ini emang penuh dengan suara tawa, ya, jadinya.
"Ternyata meski masih sakit, Nila tetap jail, ya." Ayya mencolek hidung gadis kecil itu. Nila tertawa.
"Meski butuh kursi roda, Nila tetaplah seorang gadis bandel. Dia seringkali semaput karena bandel, tetap saja main bola basket. Padahal Dr. Diaz sudah mengingatkan berkali-kali supaya tidak terlalu lama-lama beraktivitas." Ali, kakaknya Nila berucap menimpali. Dia bergaya sekali--melipat tangan di dada, paha kanannya ditaruh di atas paha kirinya. Bahasanya lagi, duh... formal sekali. Benar-benar sok cool banget. Ayya cuma geleng-geleng kepala melihatnya.
"Yah, dan kau sebagai kakak jangan cuma marah-marah, ya." Ayya menasehati. Ya, karena Ali ini orangnya emosian. Kalian baca saja ceritanya, dia penuh dengan emosi (belum selesai tapi xD).
Ali melirik Ayya. "Aku bukan cermin. Kalau mau bercermin jangan ke aku."
"WAHAHAHAHA!!" Lagi-lagi meledak tawa. Ayya menepuk jidat. Terserah kau sajalah! Ali ini nyebelin banget. Amit-amit ganteng, tapi nyebelin--bodo amat orang bilang dia sayang banget sama adiknya itu.
Dan begitulah seterusnya. Ayya berjalan mengelilingi aula besar itu, menyapa tamu-tamunya. Ada Ayumi, Terra, Sol, Kavacha dan secret agent lainnya. Ada Naji, Ray, Ichiro, Aysuke, juga keluarga besar dari mafia HJ milik Hanjin. Juga keluarga sutradara, Shinoa, Haru, Suki, Kak Red, dan juga Hakken. Jangan lupakan para bocil pesantren, ada Iman, Ara, Aqis, Peja, Rani, Nia, dan yang lain. Dan beberapa orang lain lagi yang belum disebutkan.
Kalian bertanya kenapa ramai sekali? Karena mereka lebaran bareng. Reuni akbar ini, bung, jarang mereka bisa ngumpul begini. Jadi mereka memang seniat itu, datang ramai-ramai. Soal makanan itu gampang, nggak usah dipikirkan, dia bakal datang dari mana saja. Ada yang udah disiapkan langsung, ada yang dibawa. Dan bermacam jenisnya. Ada makanan Jepang seperti sushi. Ada sup Harira dari Maroko. Puding Yorkshire dari Inggris. Baklava dari Turki. Dan jangan lupakan makanan Indonesia, rendang, opor, ketupat, lemang, gado-gado, gudeg dan lontong sayur.
Banyak, kan?
Yah, ini saja masih ada tamu yang belum datang. Kalau tamu-tamu itu datang, pasti lebih ramai dan lebih banyak lagi makanannya.
"Ay, sepertinya mereka udah datang." Farah dan Jilan berbisik bersamaan. Kali ini Ayya sedang di meja mereka.
"Oh ya?" Ayya otomatis melihat ke arah pintu aula. Wih, ramai sekali--dia langsung berlari ke sana. Dan, mematung.
Lautan orang sejauh mata memandang.
"AYYAAAA!!!" Teman-temannya yang baru datang itu berhamburan. Salam-salaman, satu persatu. Jaihan, Namira, Taqiyya, Athia, dan yang lain... Aduh, Ayya lupa temannya berapa. Banyak sekali. Jangan lupakan Profesor Sari, Profesor Andri, Sultan Kazura (dia nggak bergaya sultan sama sekali), Sopia dan Kezi, Ibunda Kasturi dan si Putra Mahkota, Kuro.
Keluarga kerajaan ini ramai banget--
"Kita ngumpul bareng yoookk, tim ciwi-ciwi alumni Cerivitas Academy!!" Namira berseru heboh. Ayya nyengir. Bentar lagi dia diseret, nih. Tapi dia sedang mencari seseora--
"Kak Nuvem!" Ayya langsung berlari mendekat setelah menemukannya. Berlari ke arah seseorang yang berseragam lengkap panglima kerajaan. Dia dikenal sebagai Pilot Salim. Dulunya dia adalah pilot di Cerivitas Academy, tapi pada dasarnya dia adalah panglima kerajaan.
Dan nama aslinya hanya Ayya yang tahu (itu misteri, tidak usah dipertanyakan).
"Kenapa?" Pilot Salim yang sedang berbicara dengan Kuro menoleh. Ayya menggeram gemas, lalu menariknya menjauh dari putra mahkota itu.
"Kok kakak gila sih, ngebiarin anak mami itu bikin parade besar-besaran gini! Padahal cuma reunian kok rame banget," Ayya menceramahinya, terlihat sebal. Pilot Salim lalu tertawa.
"Dia bawa pelayan istana juga. Dia bilang biar sekalian bisa bantuin."
"Apaan sih yang kek gitu, padahal di sini juga ada," Ayya menggerutu sebal. "Kalau emang mau bantuin harusnya dia aja yang bantu, aku lebih rela kek gitu. Ntar semuanya beres-beres kek di Cerivitas Academy dulu, kan. Daripada cuma nambahin pelayan--"
"Yah, berterima kasih sajalah. Seenggaknya dia perhatian, kan." Pilot Salim nyengir. Ayya mendengkus.
"Apaan maksudnya kek gitu."
"Tapi, Neve," Pilot Salim menatap Ayya lamat. "Itulah yang terbaik, bukan?"
Ayya mengernyit, tidak paham.
"Karena memang inilah sebaiknya tempat kita. Kau lihat itu, Neve," Pilot Salim menunjuk ke arah aula yang ramai itu. "Teman-teman kita, orang-orang yang kita sayangi, semua ada di sini. Mereka menyayangi kita. Lihatlah, puluhan, ah, mungkin ratusan orang, hadir hanya karena kau undang. Aula besar ini ramai sekali, penuh oleh canda tawa mereka. Hari pertama lebaran, reunian keluarga besar. Kita memang tidak memiliki satu itu, tapi kita punya mereka, bukan?"
Ayya diam.
"Sekarang kita tahu seharusnya kita berada. Tempat terbaik di mana kita pergi dan kembali. Kita memang tidak punya yang satu itu, tapi kita punya mereka. Puluhan, bahkan mungkin ratusan orang. Hanya karena undangan, meski itu hanya untuk reuni, bukan? Kita berkumpul di sini. Ramai-ramai. Dengan semuanya."
Pilot Salim tersenyum menatap Ayya.
"Kamu mengerti, Neve?"
Ayya menghela napas perlahan. Meski lalu tersenyum.
"Yeah, Nuvem. Aku tahu. Karena sekarang kita bukan lagi Neve dan Nuvem dari Klan Ventania."
(latepost : 3-05/2022)
Komentar
Posting Komentar