Semua Telah Kembali

 (cuplikan dari calon serialku yang tak rampung hingga kini-)


“Kuro …”

Terdengar panggilan.

Kuro yang baru saja hendak menyentuh gagang pintu gerbang kembali menoleh ke belakang. Siapa lagi yang memanggilnya? Ia menoleh ke belakang. Mata hazelnya yang sembab meluruskan pandangan.

Siapa itu?

Sosok itu mendekat.

Pakaian berwarna biru pastel itu berkibar elok. Sosok itu makin terlihat jelas, ia muncul dari balik kabut yang menutupi pandangan. Ia sama seperti dengan orang yang menemui Kuro sebelumnya. Menaiki awan.

Tapi jelas, orang yang ini sangat berbeda.

Kuro memicingkan mata.

“Ku-ro …” ia tersenyum lebar.

Kuro menatap sosok itu dengan segenap rasa.

Mungkinkah ini? Apakah hanya mimpi? Mimpi-mimpi yang selama ini mengejarnya. Menggambarkan banyak hal yang begitu ia impikan namun berujung gagal. Apakah ini mimpi-mimpi  itu lagi?

Jawabannya, TIDAK.

Tangan Kuro sudah bergetar. Matanya untuk ke sekian kalinya, kembali basah oleh air mata. Tapi selama ini, air mata itu hampa. Penuh kekosongan. Harapan-harapan. Tapi kini, itu tidak lagi. Air mata itu turun penuh rasa haru. Bahagia. Dan, kerinduan yang meluap …

“Ma … Ma-ma …?” ia berucap pelan, air mata bergegas mendesak keluar.

Sosok itu mendekat. Turun dari awan putih. Berjalan mendekat. Gamis biru pastelnya berkibar elok. Senyumnya lembut menenangkan. Merentangkan tangan, tersenyum.

“M-a-ma …!!” Kuro sudah berseru, berlari mendekat, tangannya ikut terentang, loncat ke pelukan sosok yang ternyata adalah Mamanya.

“Ku-ro … Kuro, rindu sangat Mama,” ia berucap terisak, memeluk tubuh Mamanya erat.

Kasturi, Mamanya itu, balas mendekapnya erat. Tersenyum.

“Tapi, macam mana Mama boleh ada kat sini?” sambung Kuro kemudian, menyeka hidung, menatap mata telaga Mamanya yang teduh.

Mama tersenyum. “Mama hendak menjemput kamu, Sayang.”

Menjemput? Kuro membatin. Menoleh ke belakang. Ah iya! Bukankah ia sudah memutuskan untuk pergi? Dan kenapa Mamanya hendak menjemputnya?

“Men-jem-put?” Kuro bertanya pelan.

“Ya!” Mama tersenyum lebar. “Kenapa kamu ada kat sini? Apa yang akan kamu lakukan?”

Kuro menunduk pelan, “Ma-af, Mama. Kuro akan pergi.”

“Pergi?” Mama berucap, menyungging senyum. “Buat apa kamu pergi?”

Kuro menghela napas. Tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan itu begitu sulit baginya. Pergi? Buat apa? Ah, dia tidak mungkin akan menjelaskan hal itu pada Mama.

“Ma-ma … Kuro sudah penat, Mama—“ ia mengeluh pelan, memeluk Mamanya lagi. Menangis. “Kuro sudah tak sanggup … Kuro lelah sekali! Dan Kuro ingin pergi untuk menjauh dari mimpi-mimpi semu itu! Yang selama ini menghancurkan hidup Kuro!”

Ia menangis.

Mama mengusap matanya. Ikut bersedih. Tapi ia menggeleng pelan. Tidak ada mimpi-mimpi semu itu. Tidak ada. Semuanya nyata. Sudah terungkapkan. Muncul berwujud. Hanya Kuro saja yang tidak tahu, bahwa perjuangannya selama ini tak sia-sia.

“Sayang—“ Mamanya mengusap pundak Kuro yang bergetar.

“Kuro harus pergi, Ma! Kuro tak sanggup!! Benar-benar tak sanggup!” ia sudah berseru mengucapkannya. Melampiaskan sejuta rasa yang melingkupi jiwanya.

Tidak ada yang semu, Sayang—“

“Semuanya semu! Tak ada sama sekali!” Kuro berseru menangis. Suaranya tercekat.

Mama mengeluh pelan. Bagaimanalah ini? Anaknya telanjur putus asa. Tapi, kalau saja Kuro melihat semuanya, melihat semua ini … Ah, pasti Kuro sudah tersenyum. Tertawa bahagia.

“Semuanya sudah kembali, Kuro … pelangi itu kembaliwarna-warni itu kembali—“ Mama menelan ludah.

Kuro masih dengan sedu-sedannya.

“Semuanya telah kembali. Tak ada yang harus disesali. Tak ada yang semu, semuanya nyata!” Mama berucap pelan, tapi penuh tenaga. “Semuanya nyata! Mimpi itu berwujud, Sayang …bahkan Mama akan menjemputmu pulang—“

Kuro pelan menatap wajah Mamanya. Mengerutkan dahi. Apa maksud Mamanya?

“Ny-a-t-a?” Kuro mendesis.

“Ya! Nyata. Itu nyata—“ Mama menatapnya, tersenyum meyakinkan. “Apa kamu ingin ikut Mama pulang?”

Pulang? Kuro mendesah pelan. Itu berarti ia akan kembali. Kembali ke dunianya yang dulu. Kembali ke lingkungannya dulu. Apakah ia akan memilih pulang?

“Ayolah, Sayang …” Mamanya membujuk. “Mari kita pulang!”

Kuro mengeluh pelan.

“Nak, jangan pernah berhenti percaya!

Suara Mamanya yang terdengar mantap membuat Kuro tersadar. Jangan pernah berhenti percaya. Benar sekali. Jangan pernah berhenti! Kalimat yang dulu membangkitkan mimpi-mimpi masa lalunya. Kalimat yang dulu selalu membuatnya semangat. Kalimat itu! Kalimat yang selalu mengiang sepanjang hidupnya, yang beberapa hari lalu ia campakkan jauh-jauh karena kelelahan.

Kuro menatap Mama.

Mama menjulurkan tangannya. “Ikutlah dengan Mama, Sayang!”

Kuro menghela napas. Fyuuuuuh, dengusnya terdengar. Pilihan ini teramat sulit baginya. Ia ingin sekali pergi, menjauh dari masa lalunya. Tapi, ia ingin juga mengikuti Mamanya, karena tak mau kehilangan jejak Mama lagi.

“Ayo, Sayang! Genggam tangan Mama!” Mama tersenyum, awan putih sudah mendekat, dan Mama bersiap kembali berpijak ke awan itu.

Kuro menatap Mamanya lamat.

Mama hanya tersenyum. Menunggu.

Tanpa disadari, tanpa keinginan. Tangan Kuro tergerak pelan. Bergetar. Perlahan hendak menyentuh tangan Mama. Satu detik, dua detik, lima detik … gerakannya amat perlahan-lahan. Hingga tangan itu menyentuh tangan Mama.

“Mari, Sayang!” Mama sudah mengenggamnya, menarik Kuro dari sana. Kuro yang tangannya ditarik, langsung terloncat ke awan tempat Mama berpijak.

***

Dan, saat itulah, detik-detik itu kembali.

Kasturi masih mendekap anak bungsunya itu. Berbisik pelan. Mengenggam tangan bungsunya. Mencium dahinya. Tak henti-hentinya berdoa. Ya Allah, berikanlah keajaiban itu.

Nak, jangan pernah berhenti percaya—“ berbisik lemah. Air matanya menetes ke mata Kuro yang terpejam.

Entah apa sebabnya. Jemari Kuro bergetar pelan. Bergetar! Kasturi yang mengenggamnya mengernyitkan dahi. Jantungnya berdebar kencang. Keajaiban itu datang?

Ya! Datang. Kini tak sekilas. Tak sekejap. Tak mampir saja. Benar-benar utuh. Kembali bagai berlaksa cahaya yang menembak cepat. Tangan Kuro bergetar, tak hanya jarinya sekarang. Bergetar, bergerak. Mengundang sejuta tanya.

“Uhuk, uhuk!”

Kuro terbatuk pelan.

“Kuro!”

Kasturi sudah berseru riang. Amat riang. Ya Allah, bungsunya baik-baik saja … bungsunya masih hidup! Bungsunya masih bernapas. Bergerak pelan … Ya Allah, keajaiban itu datang! Ya Allah

Dan yang lain menatap amat bahagia. Berpelukan senang. Sari merangkul Kazura yang menangis bahagia, memeluk bahu Kasturi. Keluarga kecil itu … berpelukan bahagia. Bertangisan bahagia.

Ayya menyeka ujung matanya, tersenyum. Jaihan, Namira, Athia, dan temannya yang lain, ikut merangkulnya. Saling tersenyum. Tidak ada yang sia-sia.

Terima kasih, ya Allah! Kau sungguh Maha Pengasih.


(latepost : 24-06/2021)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masjidku

I Always Love You

NEGERI JEREBU