Pisau Bermata Dua

 Pagi menyapa kota yang tengah berbenah menyambut hari. Sinar matahari bersinar lembut amat mengagumkan. Menghiasi ujung horizon cakrawala. Burung-burung beterbangan berkelompok, suara nyaring mereka mengisi senyapnya udara pagi.

Berbeda dengan yang lain, Zahra masih mendekam di kamarnya. Tidak beranjak keluar sejak selesai mengaji. Mukena pink-nya belum dilipat, malah masih teronggok kusut di tepi ranjang. Sajadah masih di lantai. Tempat tidur belum dirapikan. Jendela kamar tidak dibuka. Zahra tidak menghiraukan keadaan sekitarnya, malah asyik terus dengan kegiatannya di balik layar tablet.

Main game.

Yap! Zahra sangat senang di hari Ahad ini karena ia diizinkan Ummi bermain game hanya setiap hari Ahad. Maka Zahra senang sekali. Pagi-pagi sejak jam lima subuh, ia sudah bangun. Siap-siap shalat Shubuh. Lantas shalat berjamaah dengan Ummi dan Kak Zie. Kemudian setoran hafalan dengan Kak Zie, lalu mengaji sebanyak setengah juz—rutinitas biasanya di hari Ahad. Setelah itu, ia cepat-cepat menyalakan tabletnya yang selama ini hanya tersimpan di laci meja belajarnya. Sekarang sudah jam tujuh pagi, Zahra sama sekali tidak beranjak dari kegiatannya.

“Yeah, oh, ayolaaahh … sikit lagii!!” Zahra tampak fokus sekali, jari tangannya lincah bergerak di atas layar.

“AraZahra_980 Win”

“YEAAY!!” Zahra bersorak kegirangan, akhirnya ia berhasil mengalahkan dua lawannya. Pemilik username “Ais_Dingin120” dan “PangeranRadit_278”. Keduanya hanya bisa menepuk jidat di rumah masing-masing tatkala melihat pertarungan online mereka dimenangkan Zahra.

Selamat ya Ra …” Zahra cekikikan tatkala membaca pesan yang dikirimkan “Ais_Dingin120” di kolom chat. Zahra membalas, “Makasih Aisy!”

Bertepatan dengan itu pula, Kak Zie masuk ke kamar Zahra.

Gadis ber-hoodie biru gelap itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya. Mendecak sebal melihat kamar bernuansa pink itu acak-acakan. Ia menaruh tangan di saku hoodie, kemudian duduk di depan adiknya yang cengengesan menatapnya.

“Ngapain kamu, Ra?” tanya Zie sambil menilik layar tablet adiknya. Kembali berdecak. “Main game lagi?”

“Iya dong, Kak, kan hari ini hari Ahad. Ummi bolehkan Ara pakai tablet,” Zahra cengar-cengir memeluk tabletnya, membalas pertanyaan kakaknya sambil menyebut nama panggilannya, Ara.

Zie hanya menggelengkan kepala lagi. “Ara harusnya membereskan dulu kebutuhan Ara, baru main game. Oke?”

Zahra mengerucutkan bibir, sebal. “Ara kan udah shalat, udah ngaji juga! Kan kata Ummi kalau udah ngaji sama setoran, baru boleh main.”

Zie menarik napas panjang. “Enggak gitu juga, Ra. Kebutuhan kamu emangnya cuma shalat sama ngaji doang? Kamu inget nggak, kalau kamu itu juga butuh sama sarapan, mandi, dan kerapian kamar?”

Zahra melihat ke sekelilingnya. Tersentak. Ah iya, kamarnya berantakan sekali. Zahra juga belum mandi, belum sarapan. Zahra nyengir.

Zie bersedekap, melipat tangan di dada. “Kamu harus bijak menggunakan gawai, Ra. Nggak boleh sesuka hati, serampangan. Gunakan seperlunya saja, sesuai jadwal. Hari ini memang jadwal kamu menggunakan tablet, tapi bukan berarti harus pagi-pagi begini, kan? Lagian, jadwal keseharian kamu juga belum kamu selesaikan, padahal itu lebih penting dari main game.”

“…”

“Gawai itu bak pisau bermata dua, Ra. Kalau kamu menggunakannya baik-baik, ia nggak akan bisa membunuh kamu. Ia melakukan perannya dengan baik. Tapi kalau kamu menggunakannya serampangan? Bisa aja dia membunuh kamu. Ya kan? Kamu bayangin, gimana kalau kamu serampangan menggunakan pisau. Begitu juga halnya dengan gawai.”

Zahra terdiam. Ah iya. Kalau aku sembarangan menggunakan pisau, ia bisa salah mengiris, mungkin bahkan mengiris jariku sendiri. Zahra bergidik ngeri. Seseram itukah?

Zie tersenyum. “Menggunakan gawai itu sesuai jadwal, Ra. Nggak bisa sesuka hati kamu. Ada waktunya dan ada juga caranya, seperti yang kakak bilang tadi. Kalau kamu mau menggunakan gawai untuk kemanfaatan, kamu bisa menggunakannya untuk belajar, searching, membaca cerita atau berita online, atau untuk menemukan kreativitas baru. Kreativitas apa? Misalnya kamu coba menggambar digital di sana, atau kamu menonton tutorial membuat kreasi atau sains. Nah, bermanfaat kan?”

Zahra manggut-manggut, iya juga.

“Nah, gunakan gawainya dengan bijak, oke? Ayo, pamit dulu dengan teman-temannya.” Zie beranjak berdiri. “Setelah itu, nih, lakukan semua yang ada di kertas ini.”

Zahra menerima gulungan kertas itu, mengangguk. Membukanya, dan langsung terperangah.

Jangan lupa : rapikan kamar, mandi, sarapan, memberi Ozso dan Biwa (kucing) makan, siram bunga di taman, cuci sepatumu (kemarin kamu janji dengan Ummi buat nyuci sepatu, kan?).

“Dari siapa nii?” Zahra mengernyit, Zie tersenyum lebar.

“Ummi.” Zie menahan tawa.

Zahra menepuk jidat, turun dari ranjang. Melangkah masygul melakukan semua perintah yang tertera di kertas. Mengabaikan Zie yang tertawa di belakangnya.



(latepost : 24-06/2021)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masjidku

I Always Love You

NEGERI JEREBU