Mission
(cerita ini hanya cuplikan dari serialku yang tak rampung juga hingga kini-)
“Terima kasih atas laporan kamu, Agen Ayya. Akan kulaporkan pada Ratu Dewi.”
Ayya hanya mendengus sebal, tangannya kanannya lincah menggerakkan kursor laptop. Sementara tangan kirinya tetap setia menekan earphone di telinga. “Hmm. Ye lah. Agen lah konon. Titip salam pada Ratu. Woi, sesekali janganlah formal sangat. Tak selesa aku dengar (Hmm. Baiklah. Katanya agen. Titip salam pada Ratu. Woi, sesekali jangan formal banget. Aku nggak nyaman dengarnya).”
Terdengar balasan suara dari seberang sana. “Cis. Okelah. Titip salam juga sama teman-teman, ya! Btw, minggu depan kamu dan teman-teman bakal libur, kan? Ada agenda?”
“Hmm. Minggu depan kami nggak bisa libur. Seluruh anak-anak Tim Avenger dan Tim Fighter ada agenda bersama. Kami punya proyek bertema ‘Rumah Tangga’. Kami mau praktik seolah-olah menjalani rumah tangga, gitu.”
Tiba-tiba terdengar ledakan tertawa. “Furrrhhpp!! Apa?! Rumah tangga? Ya Allah, wahai teman-temanku yang comel yang gokil yang ambisius iniii, apakah tidak ada proyek lain? Kalian kayak sudah orang dewasa, mau jalani rumah tangga. Gyaahahahahahahaa!!”
Ayya mendengus. “Diamlah. Dasar Kuro tukang ngejek. Tawamu itu udah kayak tawa syaithon. Asal kau tahu, proyek ini hanya untuk menerapkan pelajaran mengelola keuangan, bagaimana pekerjaan alternatif mencari uang, dan semacam itu. Kau jangan mengada-ngada.”
“Fiuh. Ye lah. Eh, bisa nggak proyek itu dibatalkan?”
“Kenapa?” Ayya santai menggerakkan kursor, meng-klik ini-itu.
“Aku tahu, kamu pasti termasuk orang penting di proyek itu, kan. Maksudku, kamu juga jadi Keplak. Tapi makin hari, kamu makin dibutuhkan di sini, Ay. Jadi, bisa nggak dibatalkan?”
Note’s :
Keplak = Ketua Pelaksana
“Dibutuhkan? Maksudmu?” Ayya mulai serius. Apa maksud kakek-kakek ini, dah?
“Ya. Kamu makin dibutuhkan. Kamu kan pandai soal hack, penyelundupan, pengumpulan informasi, mata-mata, dan semacam itulah. Nah, untuk mata-mata di daerah Glacier, ada lima orang dalam satu tim, dan akulah ketua tim mata-matanya. Tapi meski begitu pun aku juga sering minta tolong sama kamu, kan. Aku dan timku nggak bisa mengumpulkan informasi dari dua pulau sekaligus. Kami butuh beberapa tenaga lagi dengan kelihaian yang sama.”
“Dua pulau? Eh, Dark Island udah masuk teritori Glacier juga emangnya?”
“Iya, sudah. Setelah surat pengakuan kalah dan surat perdamaian ditandatangani oleh Ronne, Dark Island sudah termasuk ke dalam teritori Glacier.” Ayya yang mendengar jawaban itu menjadi terhenyak. Benarkah?
“Eh, tapi, di sana kan masih tetap banyak kejahatan, bukan? Maksudku, seperti mafia misalnya. Bagaimana kita mau mengendalikan kehidupan mereka yang telanjur berkecimpung dengan kejahatan?”
“Itu mudah, nanti Ratu Dewi berencana mengunjungi mereka. Memberitahukan semua peraturan dan kebijakan, dan tentu saja peraturannya sama saja seperti yang berlaku di Glacier. Lagipula, Av juga berniat hendak membimbing penduduk mereka—meski aku sendiri tak tahu apakah itu akan efektif.”
“Eh, tunggu, Av? Maksudmu—”
“Si kakek-kakek yang pernah membiarkan kita digantung di pohon Mistlo, Ayya. Avenzoar.” Terdengar dengusan. Ayya tertawa.
“Oh, oke, jadi itu semua berada dalam kendali Ratu Dewi, Mamamu, Profesor Andri dan abangmu kan, ya? Jadi kita di bagian apa?”
“Yap, benar. Semuanya dalam kendali Ratu Dewi. Dan tugas kita adalah menjadi mata-mata, kalau permisalan mudahnya, kita jadi intel polisi gitu. Nah, untuk memata-mata di dalam pulau Glacier saja susah, apalagi ditambah satu pulau lagi.”
Ayya mengeluh pelan. “Jadi intinya, aku semakin dibutuhkan dan menjadi pengintai juga di Glacier? Dan aku harus pindah ke sana?”
“Yup. Benar sekali wahai Agen Ayya yang cerdas.”
Ayya mengusap kepalanya, mendesah. “Fyuuh. Serius nih? Soalnya aku agak keberatan. Teman-teman sudah semangat dengan proyek itu, Kuro. Lagipula, rencananya kami liburan di bulan depan. Dan di liburan itu kami mau mengunjungi Glacier.”
“Hmmh, aku paham perasaanmu, Ayya. Sayangnya, sebelum pulau itu merancang banyak hal jahat untuk memberontak, lebih baik kita harus segera bergerak melingkupi mereka. Maksudnya, membuat mereka menjadi tenang dan betah dalam aturan dan kebijakan hidup Glacier Island. Nah, karena ini permulaan, bisa jadi masih banyak yang bakal membantah. Kita harus mengintai dan memonitor kehidupan Dark Island, agar hidup mereka lebih teratur.”
Ayya menghela napas. Pilihan yang rumit.
“Aku tahu maksudmu. Kau keberatan meninggalkan teman-teman, kan? Meninggalkan sekolah, meninggalkan keluarga. Tapi, asal kau tahu, keluargamu sudah pindah ke sini.”
Ayya tersedak.
“JADI SELAMA INI AKU SENDIRI DI SINI, HUH?!”
“Jangan teriak gitu! Telingaku jadi pekak, Ayya!”
“Seriuslah. Aku—”
“Iya, aku serius. Sejak dua minggu lalu mereka pindah ke sini. Ummi dan Abimu ikut membantu Mamaku dan Ratu Dewi mendiskusikan masalah penyatuan teritori Dark Island dengan Glacier.”
Fuuuaahh. Ayya mendesah sebal. Kok bisa-bisanya aku nggak tahu?
“Jadi, keputusan telah ditetapkan, Ayya. Kau harus pindah. Posisimu penting sebagai salah satu pengintai.”
“Baiklah. Akan kupertimbangkan.” Ayya menjawab pelan.
“Baik. Sehzade Kuro kepada Agen Ayya, hubungan diputuskan. Assalamualaikum.”
“Ya, Agen Ayya kepada Sehzade Kuro. Hubungan diputuskan. Waalaikumussalam.” Ayya menjawab perlahan. Memutus percakapan.
(latepost : 24-06/2012)
Komentar
Posting Komentar