Rolling Kamar Mandi
“Woi, kalian udah lihat pengumuman baru, belum?” ucap Ara yang baru datang. Kepalanya tertutup handuk, dia menenteng tote bag yang selama ini ia pakai buat mandi. Sepertinya dia baru saja selesai mandi.
Kami—semua yang ada di kamar—menggeleng serempak.
“Pengumuman baru apa, Ara?” tanyaku penasaran.
“Kamar mandi kita di-rolling. Lihat aja pembagiannya di mading asrama.” Ucapnya singkat, jelas, padat.
Aku hanya ber-“oh”, beranjak turun. Yah, nasib kasurku di ranjang atas. Mau ke mana-mana harus turun tangga dulu, nggak boleh asal loncat kecuali mau dikafani dan dishalatkan sejak dini.
Dan aku nggak mau melakukannya karena dosaku masih banyak lagi. Fuh!
Aku bergegas keluar dari kamar, melesat menuju mading di depan kamar musyrifah (pengawas) kami. Di sana sudah banyak anak-anak berkumpul. Aku menyelip di kerumunan, langsung mencari namaku di mading.
Oke, namaku ada di kamar mandi 8.
Aku kembali menyelip keluar dari kerumunan, kembali ke kamar. Kebetulan aku juga belum mandi, jadi aku akan mandi sekarang. Sekalian mencoba kamar mandi baruku.
***
“Kenapa sih kamu lama banget mandinya?” Ara menyergahku saat aku tiba di math’am. Dia memandangku tajam, terlihat sebal. Mungkin dia kelamaan menungguku selesai mandi. Aku hanya menyengir kuda sambil garuk-garuk kepala.
Sahabatku yang satu ini memang seperti “emakku”. Cerewet!
“Tadi ngantrinya lama banget,” ucapku cengengesan.
“Kalau ngantrinya lama, mendingan gausah mandi dulu. Nanti kamu kehabisan jatah makan malam lho… Kalau mandi, setelah shalat Isya kan, masih bisa.” Ara menatapku serius. Dia kemudian menyodorkan piringku yang sudah berisi ransum makan malam. “Sekarang kamu masih beruntung karena aku inget buat ngambilin makananmu, jadi kamu enggak kehabisan jatah.”
Aku menyengir. “Hehe, iya, iya. Makasih ya udah ambilin.”
Ara hanya mengangguk, kemudian beranjak berdiri. “Sama-sama. By the way, aku duluan ke musholla ya, Iman.”
Aku mengangguk. “Sekalian bawain sarung dan Al-Qur’anku, dong. Boleh, kan?”
Ara mengangguk, mengacungkan jempol.
Aku tersenyum lebar. Untung saja dia tidak lupa kalau aku belum makan. Kalau ternyata dia lupa? Hah, jangan tanya gimana nasibku dibuatnya. Bisa jadi sekarang aku akan shalat Maghrib dengan perut yang berkeruyukan minta dikasi asupan.
***
Tapi, ternyata tidak hanya hari itu saja aku telat mandi.
Esoknya, tetap sama. Telat mandi dan nyaris enggak dapat jatah makan malam. Ara kembali menceramahiku dan menyuruhku lebih baik mandi setelah shalat Isya saja. Tapi aku bilang padanya kalau setelah Isya nanti Qism Lughoh—divisi bahasa—ada rapat dengan seluruh anggotanya. Aku selaku wakil ketua Qism Lughoh tentu wajib hadir di rapat itu.
“Kan kamu bisa mandi setelah rapat.” Ara berucap santai.
Aku melotot. Anak ini kesambet apa, sih?! “Heh! Masa aku ikut rapat dengan seragam sekolah yang udah basah karena keringat?”
“Lah, kan nggak ada yang protes kalau misalnya kamu ikut rapat dengan seragam bau?” Ara menyeringai menyebalkan.
“Masalahnya, kali ini rapatnya dengan semua anggota. Anggota Qism Lughoh kan nggak cuma kelas delapan, Ara! Kelas sembilan, sebelas, dua belas juga ada.” Aku bersungut-sungut. “Kalau misalnya rapat dengan anggota kelas delapan doang, ya udah aku sih lanjut aja, biar ajalah belum mandi. Tapi masalahnya, kali ini rapatnya dengan SELURUH anggota. Masa aku duduk di samping kakak-kakak dengan seragam bau asem? Malu tau!”
“Makanya, habis halaqoh siang itu langsung mandi, bukan langsung tepar dan ngorok kayak paus terdampar terus kehabisan napas!”
“Ya ampun… kamu jangan sembarangan ngasih perumpamaan, dong, Ara! Fitnah itu lebih kejam daripada angka timbangan yang selalu bikin sakit hati!”
“Alaaah, banyak alasan kamu, Imaan!”
Yah, setidaknya petang itu aku juga masih beruntung tidak telat shalat Maghrib—meski harus melewati perdebatan dengan Ara yang ngeselinnya minta ampun. Tapi masalahku tidak berhenti di situ.
Esoknya aku kembali telat mandi, dan akhirnya aku telat shalat Maghrib. Dan seperti biasa, anak yang telat ikut shalat berjamaah di musholla bakal diberi hukuman. Aku diberi hukuman oleh ketua Qism Ibadah—divisi ibadah—untuk membantu ibu-ibu CS (cleaning service) membersihkan math’am setelah shalat Isya. Aku awalnya kesal sekali, tapi kupendam kekesalan itu sampai aku kembali ke kamar.
Aku mengadu pada Ara.
“Tuh kan, kubilang juga apa. Mendingan mandi setelah shalat Isya kalau antriannya lama.” Ara menatapku sebal. “Tapi aku heran lho… selama ini kamu enggak pernah nge-cop antrian, kah? Masa sejak kita rolling kamar mandi, kamu telat mandi terus? Memangnya yang pake kamar mandi delapan siapa aja?”
“Selain aku, yang juga mandi di kamar mandi delapan itu ada Cinta, Bila, Fithra dan Ira.” Dengan nada yang sengaja dibuat seperti anak kecil merajuk, aku menyebutkan semua orang yang memakai kamar mandi delapan.
Ara hanya manggut-manggut.
“Pantes aja kamu telat mandi, Man.” Tiba-tiba Rani menyeletuk dari atas kasurnya. “Semua orang yang kamu sebut itu mandinya memang lama. Apalagi Ira, dia paling lama mandinya.”
“Oh ya?” tanyaku tertarik.
Rani mengangguk. “Dulu aku sempat sekamar dengannya, dan kamar mandi kami juga sama. Dan selama sekamar dengannya, aku juga pernah telat mandi berturut-turut kayak kamu.”
“Masa sih?”
Rani mengangguk meyakinkan. “Beneran, aku juga pernah. Saking seringnya telat mandi, aku jadi sering telat shalat berjamaah.”
Aku dan Ara bersitatap.
Berarti Rani sering dihukum?
“Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Ira yang baru selesai mandi.” Rani menyeringai. “Kamu tau nggak apa yang dia bilang?”
“Apa?”
“Dia bilang ‘Rani, maaf ya aku kelamaan. Soalnya aku berkutu, jadi mandinya sekalian nyisir’.”
Aku tersedak. “APAAA?! Seriusan?!”
Rani mengangguk, terkekeh.
“Kenapa sih nyisirnya harus di kamar mandi?” tanya Ara sewot. Sepertinya dia kesal juga.
Rani mengedikan bahu. “Mana aku tahu. Dia bilang karena dia malu nyisir di kamar. Makanya dia nyisir di kamar mandi.”
Aku mengeluh tertahan. “Kok sebodoh itu sih?! Orang lain mau mandi juga, kali. Jangan egois, dong. Masa gara-gara kutunya orang lain jadi kena imbasnya?!”
“Mana aku tahu. Tapi yang penting, setelah dia bilang itu, aku menyisir rambutku dan… yey! Aku dapat kutu juga!!” Rani tertawa fals, melompat tidak karuan di atas kasur.
Hah?! Aku bak tersedak meteor yang nyasar entah dari mana, terkejut bukan main. Aku menoleh pada Ara.
Anak itu malah cengengesan padaku.
“Lebih baik kamu ngecek rambutmu juga, Iman, hehe…”
Argh! Aku menggeram frustasi.
Lelucon macam apa ini!!
(latepost : 16-05/2022)
Komentar
Posting Komentar