Sebatas Angan dan Sebatas Ingin
Sore itu bukanlah sore yang baik bagi Salim.
Padahal sore itu menurutnya semua akan usai. Penderitaannya akan berakhir, kehidupan sulit mereka akan berubah menjadi kehidupan yang mudah. Dia tidak perlu lagi susah payah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Ia sudah menemukan cara baru untuk terus hidup dan membahagiakan adiknya tanpa harus terseok-seok mengais rezeki. Namun sore itu juga, semuanya lenyap bagai direnggut habis.
Persis seperti sehelai daun segar yang lantas terbang terbawa angin, kemudian layu mengering dan terbakar dilalap api.
Ia tidak tahu apa kesalahannya?
Siang itu, sejak pulang sekolah ia tidak ke mana-mana. Hendak bergegas pulang, ingin segera mengurus rumah dan menjemput adiknya, Sopia yang bersekolah di SD Negeri tidak jauh dari rumah. Lalu ingin bergegas berangkat kerja.
Dia cuma seorang anak muda yatim-piatu yang bekerja serabutan menjadi buruh apa saja. Selalu menawarkan bantuan pada beberapa pemilik toko. Menjadi tukang panggul di pasar. Penghasilannya pas-pasan. Hanya cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari ditambah uang sekolahnya—meski untuk yang terakhir ini Salim selalu membayar dengan mencicilnya saja.
Tapi siang itu ia tidak langsung pulang ke rumah. Siang itu ia terjebak oleh gerombolan preman dari sekolahnya yang menghina dan mengejeknya. Salim tidak memiliki tubuh yang besar dan kuat. Tubuhnya sangat kecil dan ringkih, sehingga mudah sekali bagi lawan untuk menonjoknya. Saat itu cukup tiga kali pukulan, Salim pasti KO. Tapi di saat pukulan ketiga siap mendarat, Salim diselamatkan oleh seseorang.
“HEY ORANG YANG BERANINYA CUMA KEROYOKAN!! SINI LAWAN AKU, BRENGSEK!!”
Salim hanya mampu termangu menonton adegan itu. Seorang anak lelaki yang tidak ia kenali dengan seragam sekolah yang sama berdiri di depannya, bersiap melindungi. Postur tubuhnya sedang, tidak pendek dan juga tidak tinggi. Tubuhnya juga terlihat kurus kerempeng, kurang-lebih mirip seperti Salim. Tapi anak itu terlihat semangat dan beringas menghancurkan musuh di depannya, bahkan sampai tertawa-tawa jahat.
“Besok, kalau kau diserang lagi, lawan dengan semangat, oke?! Orang-orang kayak gitu nggak bakal berani nonjok kalau kita udah kepedean.” Salim cuma bisa melongo kayak orang bego menatap anak di depannya yang justru tertawa santai sambil menyeka darah di pelipis. Ia tidak kelihatan lelah dan kesakitan—padahal mukanya udah bonyok karena kena tonjok sama lawannya yang lebih besar.
Karena perkelahian kecil itu, Salim akhirnya berkenalan dengan teman barunya.
Namanya Zaidan. Seorang anak yatim-piatu, sama seperti Salim. Hanya saja Zaidan memiliki seorang kakak laki-laki yang usianya hanya berbeda dua tahun dengannya. Untuk kehidupan sehari-hari, saat ini kakaknya bekerja sebagai kuli bangunan dan penjahit. Zaidan membantu kakaknya dengan merintis hobinya, yakni membuka bengkel motor. Bengkelnya lumayan terkenal. Namun karena Zaidan adalah tipe anak pecinta motor—yang juga suka memodifikasi motor, jadi bengkelnya terkenal di kalangan preman geng motor saja.
“Memangnya kau tidak suka motor, Salim?” begitu Zaidan bertanya di sela-sela obrolan mereka.
“Aku tidak tahu-menahu soal begituan, Zaidan.” Salim hanya menjawab pelan. “Aku sibuk mengurusi rumah. Jarang sekali bisa mengetahui sesuatu tentang dunia remaja masa kini.”
Zaidan menatapnya prihatin. “Kamu tidak punya orangtua?”
Salim tertawa hambar, menggeleng. Dia tidak punya orangtua. Ibunya meninggal karena kanker payudara. Ayahnya yang tidak peduli dan tak tahu-menahu soal mereka mati bunuh diri karena terlilit utang akibat berjudi. Dia hanya sendirian sejak usia 6 tahun. Sejak usia sedini itu ia menanggung banyak hal. Menggali otaknya agar mampu berpikir kritis. Menguras tenaganya, tersuruk-suruk melakukan banyak hal dengan tubuh kecilnya agar mendapatkan upah meskipun sedikit.
Namun sepertinya dunia tidak adil padanya.
Mengapa? Mengapa harus dia yang tersiksa?
Apa salahnya? Ia hanyalah seorang anak yang baru menginjak usia 14 tahun. Sudah 8 tahun lebih ia berjibaku dengan segala kepedihan, dan tidak pernah ada titik terangnya.
“Kamu tidak pernah bisa mencoba kebahagiaan anak-anak seusiamu sama sekali?” Zaidan bergumam pelan, tampak sedih mendengar cerita yang Salim tuturkan. Salim hanya tersenyum getir memandangi langit. Mengiyakan dengan suara lirih.
Iya, dia memang tidak pernah merasakan kebahagiaan yang pernah dirasakan oleh anak-anak seusianya.
Satu-satunya kebahagiaan yang mampu mengobati hatinya yang penuh luka adalah senyuman riang dan wajah ceria adiknya.
Meskipun terkadang senyuman riang dan ucapan ‘terima kasih’ itu ia dengar hanya karena sebuah hadiah kecil yang amat sederhana.
Padahal ia tidak bisa memberikan sesuatu yang luar biasa untuk adiknya.
Salim terduduk di samping Zaidan, menekur kepalanya. Tertunduk menahan tangis.
“A-Aku orang yang payah, kan, Zaidan? Du-dulu adikku hanya ingin sebatang es krim, tapi aku tidak berhasil memberinya. Meski sekarang ia tidak lagi meminta-minta hal lain, tapi aku merasa gagal sebagai kakak, Zaidan…” Salim menangkup kedua wajahnya. Merasa malu karena telah menunjukkan sisi lemahnya, namun di sisi lain ia justru merasa terguncang karena telah menyadari betapa payahnya dia sebagai seorang kakak.
Zaidan terdiam, terlihat sedih. Ia mengelus-ngelus pundak Salim, memberikan kekuatan, mengatakan bahwa Salim adalah kakak yang baik dan kuat.
Namun tidak sampai di situ. Zaidan justru mengajaknya bergabung ke bengkel motornya.
“Ka-kamu serius, Zaidan? A-aku kan sudah bilang, aku nggak tahu-menahu apapun soal motor,” Salim tampak gugup ketika Zaidan menyuruhnya bekerja di bengkelnya saja. Tapi Zaidan menggeleng, tampak bersikeras.
“Pokoknya aku mau kamu bekerja di bengkel motorku. Soal belajar tentang mesin-mesin, aku bisa ngajarin kamu. Dan kamu bisa ngerjain banyak hal di bengkel, lho, Salim. Membersihkan bengkel, mencuci motor, dll. Aku pengen membantu kamu, Salim. Aku nggak suka melihat temanku kesusahan. Selagi aku bisa membantunya, maka akan kubantu sebisaku.”
Salim mengerjap, tersenyum haru. Merasa bersyukur karena Tuhan mempertemukannya dengan teman yang baik hati. Terisak sembari mengucap terima kasih lirih. Zaidan hanya tersenyum, mengusap pundaknya, menenangkan, lalu menyuruhnya pulang. Salim hanya menurut, tentu saja ia akan pulang. Ia harus segera mengurus Sopia.
Ia juga akan memberitahu bahwa ia sudah menemukan pekerjaan baru. Pekerjaan yang mungkin akan membuat penghasilannya bertambah. Tabungannya juga bakal makin banyak dan dia bisa membelikan apapun yang Sopia mau.
Tapi angan-angan itu kandas seketika saat tetangga di sebelah rumahnya yang merupakan teman Sopia menyambutnya di depan pintu rumah.
“Maafkan aku, Kak Salim. Sopia tewas karena ditabrak pengendara motor. Pelakunya lari begitu saja, enggak membantu. A-Aku saat itu blank, gentar melihat darah di kepala Sopia. A-Aku nggak bisa berpikir jernih saat itu. Andaikan aku cepat melakukan sesuatu, menghubungi ambulans misalnya, mungkin Sopia akan terselamatkan.”
A-Apa?
Salim berdiri membeku di depan jasad adiknya yang mendingin.
Hanya mampu tertegun. Diam membeku dan tak dapat bergerak. Dalam sekejap seluruh persendian tubuhnya bergetar. Ia lantas meluncur jatuh.
Terdiam menatap wajah adiknya yang memar membiru akibat tabrakan.
Ah.
Padahal dia baru saja pulang, membawakan angan-angan yang hebat untuk adiknya, dengan impian berhasil memberikan adiknya hadiah istimewa.
Tapi mengapa Sopia cepat sekali pergi?
Salim terduduk membeku. Menatap lamat. Ingin menangis, tapi tidak kuasa. Matanya hanya menatap kosong.
Air matanya menyurut habis, bahkan tak sempat keluar setetes pun.
Salim tak bisa bergerak, hanya terdiam lamat.
Apakah ini salahnya karena terlambat pulang?
Padahal dia baru saja berangan-angan untuk dapat memberi apapun yang adiknya inginkan.
Sebatas angan-angan.
Sebatas keinginan.
Tapi semuanya kandas dalam sekejap?
Sore itu, angin senja membelainya dalam senyap. Awan mendung berarak memayungi kota, seolah turut menangis akan kematian Sopia. Hujan turun berirama, mencipta senandung yang menenangkan. Menyelipkan selirik pesan yang terdengar sayup di antara gemericik air yang berjatuhan.
“Terima kasih sudah berjuang untukku, Kakak. Berbahagialah di sana. Aku dan Ibu menunggumu di sini.”
And such, life goes on.
(latepost : 24-06/2012)
Komentar
Posting Komentar