Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

AKU HARUS PERGI

AKU HARUS PERGI.. By : Fatya Bakhitah Sulaiman Matahari bersinar cerah. Sinarnya menyulut kobaran api semangat pagi. Semangat yang bergelora di dada, siap menyambut pagi kelima mereka di Amerika. Siap untuk mengamati, meneliti, dan lebih lagi berpetualang untuk menemukan hal-hal baru di Negara USA. Di depan cermin besar kamarnya, Khadijah berpakaian olahraga. Jilbab juga sudah menambah anggun penampilannya. Terlihat cantik, pipinya tambah merah merona. Khadijah tersenyum melirik dua sisi pipinya. Ah, tidak salah sangka Ummi memberinya nama Khadijah al-Humayra. Ya, Humayra. Seperti panggilan Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Humayra. Sebab pipinya yang merah merona dan kulitnya putih bersih membuat seluruh orang memanggilnya Humayra. Jadi, Ummi memberinya nama Khadijah al-Humayra karena pipinya yang merah merona, indah ditatap. Khadijah mengambil sepatu olahraganya. Kemudian sepatu itu dijinjingnya, dibawa ke depan pintu rumah. Khalid terlihat sudah menunggu di hala...

LATIHAN MEMANAH

LATIHAN MEMANAH BY: Fatya Bakhitah Sulaiman Sore menyentuh kota Utah, Amerika. Matahari mulai turun menuju ufuk barat. Cahaya kemerah-merahan menghiasi kota. Cahaya senja menyelimuti kaki langit. Suasana di kamar itu… Khadijah beranjak menutup gorden jendela. Sambil menutup, ia melirik keadaan luar apartemen. Cahaya senja menyilaukan bersinar dari ufuk. Awan kelabu khas senja tampak menjelma di langit. Klik! Bunyi saklar lampu kamar Khadijah mengarah ke atas, menyalakan bola lampu. Setelah itu, Khadijah santai membuka laci meja laptopnya, mengeluarkan laptop dan duduk bersila diatas ranjang. Lumayan, dia ingin menikmati sore dengan membuka laptop dan menyandar di bantal kasur yang empuk. “Tok..tok.. aku boleh masuk, Khadijah?” Khalid mengetuk pintu sembari melempar tanya pada Khadijah dari depan pintu kamar Khadijah. Khadijah yang sibuk menggenggam mouse optik laptop segera melempar jawaban, “boleh, masuk saja.” Khalid pun membuka pintu kamar Khadijah...

BELAJAR DARI POHON DI NEGARA USA

BELAJAR DARI POHON DI NEGARA USA BY: FatyaBakhitah Sulaiman Pagi menyapa daratan. Burung camar melenguh sembari terbang berkelompok. Cahaya matahari menyemburat dari ufuk timur. Sinarnya pelan menyapu permukaan air laut. Keindahan panoramanya membuat keluarga nomaden itu semakin bersemangat mengemasi barang-barang, bersiap berangkat menuju Negara USA. Negara United States of Amerika. *** Hari keberangkatan itu sudah berlalu. Hari ketiga, mereka sudah beradaptasi di Negara itu. *** Angka jam digital smarthphone Khadijah menunjukkan pukul empat. Alarm berbunyi, menandakan waktu sholat di Amerika sudah tiba. Khadijah mengucek mata. Tangannya menyambar smarthphone yang masih berdenging dari balik bantal. Dimatikannya alarm, kemudian ia berjalan pelan menuju kamar mandi. Hendak mencuci muka, menggosok gigi, dan disusul wudhu. Kemudian, ia keluar kamar mandi dan menjumput mukena dari laci lemari baju. Lalu, ia sholat Shubuh. Selepas sholat Shubuh, ia mengambil ji...

KEMERIAHAN KEMBANG API DI LANGIT KOTA BENGKALIS

KEMERIAHAN KEMBANG API DI LANGIT KOTA BENGKALIS BY: Fatya Bakhitah Sulaiman Malam yang indah. Bulan bersinar dengan cahayanya yang memukau di ufuk langit. Bintang-gemintang bertaburan, menemani bulan yang menatap kemeriahan di daratan kota Bengkalis. Ombak terdengar berdebur pelan, menghempaskan air dengan dentuman yang berirama. Suasana malam yang menyenangkan bagi penghuni Bumi. Khadijah dan Khalid duduk di teras rumah Opah (panggilan nenek dalam bahasa Melayu), Ibuknya Ummi. Mereka duduk bersebelahan di kursi kayu yang diukir dengan ukiran yang indah. Di kursi lain, ada Opah dan Ummi yang duduk bercerita, bercengkerama bersama. “ DUAAR! BUUM! DUAAR!” Benar sekali. Itulah dentuman kembang api yang meledak dilangit kota Bengkalis. Kembang api yang meledak susul-menyusul di lembayung langit. Malam ini, festival kembang api, penyambutan tahun baru. “Masya Allah.. Pesta Kembang apinya udah dimulai, Khalid!” Khadijah berbicara setengah berbisik kepada Khalid. Matany...

KOTA CAPPADOCIA, KOTA BALON UDARA

KOTA CAPPADOCIA, KOTA BALON UDARA BY: Fatya Bakhitah Sulaiman   Malam menyelimuti kota. Lampu-lampu jalan di pinggir trotoar tampak menyala, menerangi jalan. Bulan bersinar indah dilangit. Seusainya makan malam di kamar, Khadijah, Ramlah dan Shafiyyah segera tidur. Malam ini mereka tidur sama-sama lagi. Kalau Khalid, bareng Walid, Salamah dan Hudzaifah. Walau sempit-sempitan dan banyak bertengkarnya, mereka tetap kompak tidur bersama. Di awal malam, Khadijah melihat sesuatu. Ya, mimpi. Konkret mimpi yang baik. Ayo kita baca ceritanya guys.. *** Khadijah berbaring merentangkan tangan diatas salju. Hujan salju seperti senapan mesin, menembaki tanah dengan butiran-butiran salju yang bertubi-tubi menghujam bumi. Suasana sepi, yang tersisa hanyalah bunyi gerak pasif pepohonan pinus. Khadijah beringsut duduk. Dua tangannya menahan tubuhnya. Kepalanya berputar, matanya beredar mencari sesuatu. Nihil! Yang ada hanyalah pepohonan pinus dan salju. Tidak a...