Berpetualang bersama RobotBear

                                                              Berpetualang bersama RobotBear
                                                                             By: Fatya



Suatu pagi di hari Minggu…
Khadijah masuk ke kamarnya. Ia membuka gorden jendela (gak buka jendela). Dinyalakannya AC kamarnya dan duduk di meja menulisnya. Dibukanya laci meja, mengambil laptop Toshiba miliknya. Dinyalakannya laptop, lalu ia membuka Google. Hari ini ia ingin mempelajari apa yang tidak ia ketahui. Seperti profil hiu Blacktip, cumi-cumi raksasa, hiu Megalodon, paus pembunuh Orca (Orca saking ganasnya pada makhluk laut, ia dijuluki “Si Raja Lautan”). Dan juga mempelajari metamorphosis, jenis-jenis daun, dan menjelajahi alam Galaxy (luar angkasa).
Khadijah browsing tentang penelitian para ilmuwan luar angkasa.
Dibagian atas artikel, tampak sebuah roket luar angkasa. Wah, keren, gumamnya. Bagaimana tidak, roket itu bewarna putih kotor dengan belang merah terang. Disisi kanan kiri atas roket ada dua buah lampu kaya lampu motor.

 Ketika asyik membuka situs sana-sini, tiba-tiba…
KRIIEEK!
Pintu kamarnya terbuka. Khadijah langsung melihat ke samping kanan, tempat pintunya berada. Oh, ternyata Khalid. Khadijah langsung mengabaikan Khalid dan kembali menatap layar kaca laptop.
“kamu browsing apaan Khadijah?” tanya Khalid, tertarik.
“ini, browsing jenis-jenis roket terbaik di dunia. Keren bukan?” seru Khadijah tanpa mata pada Khalid.
“lihat nih, warnanya keren banget! Rasanya aku ingin naik roket! Menjelajahi angkasa” seru Khadijah lagi.
BUM!
Khadijah dan Khalid serempak tersentak. Serempak berlari menuju jendela, melihat keadaan luar.
“tidak ada sesuatu kok. Tapi bunyinya agak keras tadi lho! Aku kira ada meriam bedentum” kata Khalid.
“ya sudah. Aku mau browsing lagi tentang roket terbaik itu. Kamu baca saja komik-mu itu diatas tempat tidurku. Boleh kok” kata Khadijah sambil kembali duduk di meja menulis/ meja laptopnya.
“makasih!”
“sama-sama”
Khalid menuju tempat tidur Khadijah yang bersampul seprai abu-abu. Tapi, Khalid langsung tertarik dengan sebuah benda yang ada di atas tempat tidur.
“eh, diatas ranjangmu ada roket terbaik yang kita lihat tadi di Google lho, Khadijah” seru Khalid, terkejut bukan kepalang.
“ah, kamu jangan bercanda deh! Ngaco banget” timpal Khadijah, sewot.
“beneran lho, aku ga bercanda kali ini. Lihat aja diatas ranjangmu ini!” seru Khalid makin kencang, terkejut sekali melihat sebuah roket mainan tetapi warnanya serupa dengan warna roket terbaik yang ia lihat di laptop Khadijah.
“ada apa ini kok teriak-teriak? Eh, itu roket mainan milik siapa?” tanya Abi dan Ummi yang muncul di bingkai pintu.
Khadijah mulai penasaran. Ia melihat ke arah ranjang abu-abunya. Benar, diatas ranjang ada sebuah roket kecil yang warnanya mirip sekali dengan roket terbaik yang ia lihat di Google.
Lho?
Khadijah semakin penasaran. Ia berjalan menuju rajangnya. Begitu pula dengan Abi dan Umminya.
“ayo ngaku, ini milik siapa? Abi gak pernah beliin kalian roket mainan kok” kata Abi. Kalimat itu terdengar tegas.
“nggak tahu Bi!”
“lho, kok anak Abi gak tahu sih? Ini buktinya ada di rumah kita” kata Abi, makin tajam.
“sudah, jangan terlalu tegas. Dari sorot mata mereka berdua saja mereka sudah jujur kok, Bi” kata Ummi menengahi.
“eh disini ada sebuah tombol. Tapi gak tahu itu tombol apaan. Kita tekan yuk!” seru Khadijah.
Ummi dan Abi mengangguk. Bismillah, Khadijah mulai menekan tombol roket.
Tiba-tiba roketnya membesar. Ummi, Abi, Khalid bahkan Khadijah terkejut.
“lah? Kok makin besar?”gumam Abi.
“keren!” seru Khalid.
“hush, diam dulu” Ummi menghardiknya.
Roket itu memiliki tombol didepan pintunya. Diatas tombol tertulis “Open”. Khadijah tidak mengerti, tetapi ia langsung menekannya.
“aduh!!!” teriak Abi, Ummi, Khalid dan Khadijah serempak.
“eh ada robot kecil mendatangi kita!” bisik Khadijah pada Khalid.
“halo, assalamu’alaikum. Perkenalkan, saya RobotBear. Biasa dipanggil Bear” sapa Robot Bear.
“oh, hai. Waalaikummussalam. Aku namanya Khadijah. Ini kembarku, Khalid. Ini Abiku, ini Ummiku. Senang bertemu denganmu Bear” balas Khadijah tersenyum.
“nah, kalian sekarang berada di luar angkasa. Saya pendamping kalian berdua. Ummi, Abi akan dijamu oleh Profesor di kabin tamu. Mari saya antar Bi, Mi!” kata Bear sambil menggiring Ummi dan Abi bertemu Profesor.
“terima kasih Bear. Nah, kalian berdua ngobrol sama saya saja ya. Biar Khadijah dan Khalid melihat beragam benda luar angkasa” ujar Profesor.
Ummi dan Abi mengangguk. Sedangkan Bear kembali keluar, membawa Khadijah dan Khalid menuju layar luar angkasa.
“nah, Khalid, Khadijah, hari ini kita akan mengenal beragam planet. Nah, planet yang berada didekat Matahari disebut Merkurius. Planet ini sangat panas. Tidak senormal panas Bumi”
Planet kedua setelah Merkurius adalah Venus. Venus sering disebut sebagai “adik perempuan Bumi”. Dan, Venus merupakan planet yang paling cerah. Bahkan bisa dilihat dari Bumi. Tetapi, jangan dikira, lapisan luar planet Venus sangat mengerikan lho! Lapisan luarnya berselimuti awan gas beracun, ditambah halilintar yang selalu menyambar-nyambar” jelas Bear pada Khalid dan Khadijah sambil memperlihatkan gambar asli planet Venus.
Mereka bertiga asyik berbicara perihal planet-planet, satelit di setiap planet, dan lainnya. Hingga mereka tiba di judul planet baru, “Exoplanet”.

“wah, pemandangannya indah sekali. Tapi, kok disisi atas sana seperti ada dua buah Bulan? Ini juga, Matahari-nya besar amat, Bear?” kata Khadijah. “oh ya. Ini permukaannya juga bukan tanah, tapi air. Emangnya Exoplanet itu semua permukaannya air ya, Bear?” lanjutnya.
RobotBear tersenyum, “Exoplanet hampir mirip dengan planet Bumi. Ada airnya, ada tanahnya, ada udara, ada oksigen, dan semua seperti yang kita rasakan di Bumi” jelas Bear.
“wah, asyik sekali obrolan kalian. Kalian anak yang cerdas. Ayo, sekarang kalian harus menuju pintu bergambar planet Bumi itu dan kalian harus menjawab pertanyaan yang ditanyakan. Baru kalian boleh pulang” ujar Profesor sambil dikawal Abi dan Ummi di kanan-kirinya.
“ayo Ummi, kita menuju pintu itu” ajak Khadijah.
“eps, tidak boleh. Abi dan Ummi kalian harus pulang lewat pintu yang berbeda. Abi dan Ummi pulang diantar Profesor. Sedangkan kalian harus berdua pulangnya. Karena kalian harus menjawab pertanyaan. Apalagi, kalian harus datang ke sini setiap jam 9 pagi. Kalian anak Homeschooling kan?” bisik Profesor.
Khadijah dan Khalid mengangguk.
“jadi, setiap jam 9 pagi, setiap hari, kalian harus mendatangi roket ini. Kalian harus belajar luar angkasa bersama Bear dan Profesor. Paham?” kata Profesor.
“siap Prof!”seru Khadijah dan Khalid sambil hormat pada Profesor.
“ayo masuk kesana” suruh Abi.
Khadijah dan Khalid masuk kedalam pintu itu. Selang satu detik, setelah Khadijah dan Khalid masuk kedalam pintu, pintu langsung tertutup.
“sepi..” bisik Khadijah dan Khalid.



Disana, ada sebuah pintu. Pintu itu dibuka oleh Khalid. “aduh, pintunya terkunci Khadijah!” seru Khalid cemas.
“eits, kalian pasti bisa membuka pintu ini. Tapi, kalian harus menjawab pertanyaan yang kutanyakan pada kalian ya!” tiba-tiba ada suara menyapa.
Khadijah dan Khalid siap menjawab pertanyaan. Mereka baru mengerti perkataan Profesor tadi sebelum masuk ke ruangan ini.
“nah, berapa jumlah planet kerdil yang diketahui?” suara itu terdengar lagi.
“ada 5!” Khadijah menjawab. Khalid melirik. Ia tadi sudah tahu jawabannya. Tetapi ketika jawaban sedang diujung lidah, jawaban itu telah melayang dari mulut Khadijah.
“jawaban kamu benar. Baiklah, pertanyaan berikutnya. Apa saja nama-nama planet yang diketahui?” suara itu kembali memberikan pertanyaan.
“Merkurius, Venus, Bumi, Mars… apalagi ya?” Khadijah bingung.
“Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus!” Khalid menyambung perkataan Khadijah.
“planet apa yang mirip dengan Bumi?” tanya suara itu lagi.
“Exoplanet!” Khadijah dan Khalid menjawabnya serempak.
“benar. Kalian sudah menjawabnya dengan benar. Silakan saja buka pintu itu. Tapi ditutup lagi setelah kalian keluar ya!” suara itu memberi instruksi.
Khalid mencoba membuka pintu. Benar, pintunya terbuka. Tetapi, mereka hanya berada didalam ruangan yang lain lagi.
“eh, ada kakak-kakak disana” tutur Khadijah, girang.
“hai adik-adik manis. Nama saya, kakak Refa. Kakak mau tanya, kalian hendak pulang ke rumah?” sapa kakak Refa.
“iya kak” balas Khadijah dan Khalid.
“sini kakak antar” kata kakak Refa.
Mereka berdua pun akhirnya diantar kakak Refa pulang ke rumah. Alhamdulillah, mereka akhirnya kembali ke kamar Khadijah. Khadijah dan Khalid pun kembali melihat roket terbaik itu. Kemudian, roket itu kembali berubah seperti roket mainan. Khadijah pun menyimpan roket itu di laci meja laptop-nya.


#CerivitasTantanganMenulis30Hari



Komentar

Postingan populer dari blog ini

I Always Love You

Masjidku

Labirin